sebenernya, peringatan Maulid nabi ini telah terjadi sekitar satu bulan yang lalu, lalu saya menuliskan pengalaman ini (juga) sekitar satu bulan yang lalu. Namun, baru saya posting saat ini. Walau terlambat semoga manfaat dan tidak menimbulkan kontroversi diantara kita sobat.
jadi, begini ceritanya :
Maulid, atau yang biasa kita menyebut dengan milad adalah peringatan hari lahir. Maulid Nabi adalah peringatan untuk kelahiran nabi kita Muhammad SAW, dimana beliau dilahiran pada hari Senin, 12 Robiul awal tahun gajah.
Biasanya, jika di daerah dimana saya tinggal, kota Jepara, peringatan Maulid Nabi dengan membaca surat Al-Berzanji selama 12 hari, atau sekarang yang lebih populer adalah banyak yang membaca Simtuddor yang diusung oleh Habib Syech Assegaf. Al-berzanji merupakan kumpulan pujian-pujian dan sejarah perjalanan dan perjuangan Nabi sepanjang hayatnya.
Sungguh indah dan ngangeni yen mengingat dan bisa mengikuti kekhusyukan bersholawat, larut dalam lantunan pujian atas Nabi. Apalagi dengan adanya jadah (jajanan-jajanan) yang disediakan, semakin meramaikan suasana kala itu.
Semenjak adanya sholawat ala Bib Syech dengan Simtuddor-nya beberapa waktu terakhir ini, gairah sholawat di kota saya kembali bergelora. Paling tidak, masjid-masjid bahkan musholla sekarang banyak yang sudah mempunyai alat musik terbang (rebana) untuk mengiringi pujian-pujian yang dilantunkan.
Jogjakarta
Kali ini, saya merasakan suasana yang lain ketika turut memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Kebetulan malam itu, 14 Februari 2011, saya sedang singgah di kota Jogja (memang) istimewa. Dan, bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi 1432 H kali ini, saya berkesempatan untuk mengikuti perayaannya. Adalah Masjid Al-Ikhlas, masjid kecil berwarna hijau yang berlokasi di dusun Sono, Jakal (jalan kaliurang) KM.6,7 gang Timor Timur, Sleman, Yogyakarta, tempat yang saya singgahi.
Peringatan Maulid Nabi disini, berbeda dengan peringatan yang pernah saya ikuti sebelumnya dikota saya. Peringatannya cukup sederhana. semua warga sekitar masjid dikumpulkan. Kakek-kakek, nenek-nenek, bapak-bapak, ibu-ibu, remaja, bahkan anak-anak pun berkumpul menjadi satu di teras masjid itu. Dengan bertemakan NADA dan DAKWAH, acara ini diisi dengan nada-nada sholawat bergantian dengan dakwah dari ustadz (maaf, tidak tahu namanya). Dimulai dengan iringan musik (terbang, drum, bas, dan keyboard) dari remaja masjid serta lantunan sholawat dari ibu-ibu nasyidariyah. Sholawat dan pujiannya pun ala Sleman dengan kolaborasi bahasa Arab dan tembang Jawa.
Dakwah-dakwah yang disampaikan oleh Ustadz diantaranya, mengenai asal usul adanya Maulid Nabi, tentang Nur Muhammad yang ada sebelum Nabi Adam diciptakan, tentang kelahiran kelahiran nabi Muhammad, sejarah perjuangan Nabi, serta akhlak-akhlak yang bisa kita contoh sebagai ummatnya. Di sela-sela dakwah, jajanan dan gorengan serta nasi dengan suwiran ayam dekem disuguhkan kepada para jamaah. Disertai pula dengan rintikan air hujan yang semakin menambah kekhusyukan kami dalam bersholawat. Hingga akhirnya pukul 11 malam, acara pun dipungkasi dengan berdoa bersama yang dipimpin oleh pak ustadz.
Masjid ini, membuatku kagum akan kekondusifan dalam beribadahnya. masjid yang kecil dan sederhana. Saat adzan berkumandang, masyarakat sekitar masjid mulai berbondong-bondong untuk datang masjid. Mulai dari keberisikan dan keramaian anak-anaknya, para muda-mudinya, hingga para orang tuanya. Khususnya ketika sholat magrib, isya, dan subuh. Paling tidak beberapa kali saya ikut dalam jamaah 3 sholat wajib tersebut dan jamaah tergolong lumayan banyak. Jogja memang istimewa, istimewa negerinya, istimewa orangnya.
Maulid penuh sholawat
Pagi harinya, saya pulang ke desa dimana saya dilahirkan. Entah ada angin apa, tiba-tiba saya ingin pulang, selain karena kemarin habis ditelpon ibu dan menanyakan tentang kepulangan. Mungkin saya terlalu larut dalam ‘indah dan nyamannya’ jogja.
Benar saja, kepulanganku kali ini tampaknya tepat bagiku untuk bersholawat. Sampai dirumah, saya diberi tahu ibu saya, bahwa sore hari itu, kami ada acara rutin keluarga besar bani Muchtar. Biasanya, acara hanya diisi dengan membaca tahlilan untuk mendoakan orang tua dan mbah-mbah kami. Namun, bertepatan dengan peringatan maulid nabi acara kali ini dimulai dengan membaca al-berzanji. Setelah membaca al-berzanji, ada sedikit petuah dari Bpk Ali Irfan Mukhtar, selaku kakak tertua dari keluarga (bani) Muchtar. Beliau menjelaskan tentang Maulid Nabi serta awal munculnya al-berzanji.
Peringatan maulid nabi disini (Jepara) diperingati pada hari ini, Selasa. Karena, ada beberapa kalender yang menyebutkan bahwa tanggal 12 robiul awal hijriyah jatuh pada hari Rabu. Sepulang dari acara keluarga, ketika adzan maghrib berkumandang, saya pergi ke musholla dekat rumah saya, yang biasa saya berjamaah disana. Di musholla, sudah disiapkan sound system dan seperangkat rebana. Mari bersholawat kembali. Kami melantunkan beberapa syair-syair ala Bib Syech dengan alat seadanya. Ternyata ndak gampang mainin terbang. Saya jadi tertarik untuk mempelajarinya. Ini, sekaligus mengobati kerinduanku pada acara berjanjenan (istilah kami untuk membaca al-berjanji) bareng-bareng.
Maulid nabi dan bid’ah
Dari peringatan maulid nabi di beberapa tempat kali ini, ada hikmah (atau tepatnya cerita) yang saya dapatkan. Cerita yang disampaikan dari Pak ustadz dan sekaligus Pak Ali Irfan pada intinya adalah sama, yaitu mengenai peringatan maulid nabi. Peringatan maulid nabi, ada beberapa golongan yang tidak boleh untuk merayakannya. Memang, peringatan dan perayaan ini pada zaman rosulullah, Rosul tidak pernah merayakan hari lahir beliau. Peringatan ini, ada beberapa golongan yang menyebutnya dengan bid’ah. Bid’ah adalah segala sesuatu yang tidak pernah dilakukan dan dianjurkan oleh Rosulullah. Namun, penuturan Pak Ustadz, bahwa kita jangan sampai takut dengan istilah bid’ah. Bid’ah itu ada bid’ah dholalah dan bid’ah khasanah.
Bahkan pada hari itu juga, saya membaca koranpagi wawasan pada kolom opini & feature, diceritakan oleh Dr. Mohammad Nasih (Dosen Pascasarjana Ilmu Politik UI dan FISIP UMJ) tentang Memaknai ulang tahun Nabi. Berikut saya kutipkan cerita singkat beliau.
“…… Orang yang mengerti sejarah peradaban Islam akan menjawab bahwa Nabi tak pernah melakukannya, dan perayaan maulid Nabi baru terjadi jauh setelah Nabi meninggal dunia. Bahkan orientasi (tujuan) pelaksanaan maulid Nabi juga bermacam-macam sesuai dengan kebutuhan riil masyarakat islam.
Mengenai kapan tepatnya awal pelaksanaan maulid Nabi, terdapat beberapa versi pendapat. Rasyid Ridla mengatakan bahwa peringatan maulid pada mulanya dilakukan oleh Raja Syakas di Mesir. Versi lain menyebutkan bahwa peringatan maulid pertama kali dilakukan pada masa kekhalifahan Fathimiyah di Mesir. Saat itu, peringatan maulid bagi keluarga kerajaan mempunyai nilai politis sebagai upaya untuk menunjukkan kepada masyarakat bahwa Dinasti Fathimiyah adalah keturunan Nabi (Ahl al-bait). Bagi keluarga kerajaan, maulid menjadi momentum yang sangat strategis untuk melegitimasi kekuasaan politik yang sedang mereka pegang sebagai “warisan” dari Nabi Muhammad. Dengan demikian, tidak akan muncul gejolak dalam masyarakat yang mempersoalkan kepemimpinan mereka.
Tradisi perayaan maulid Nabi kemudian semakin meluas di berbagai wilayah yang berpenduduk Islam setelah dipopulerkan oleh Abu Sa’id al-kokburi, Gubernur wilayah Irbil dimasa pemerintahan Shalah Al-Din al-Ayyubi. Muncul semangat baru dalam pelaksanaan perayaan maulid dalam masa ini, yakni membangun persatuan dan kesatuan umat Islam yang saat itu sedang menghadapi tentara Kristen dalam Perang Salib. Acara maulid semakin meriah dan menarik para pengunjung dari luar wilayah ketika didalamnya kemudian dimasukkan berbagai macam hiburan dengan menampilkan para musikus, penyanyi, dan pembawa cerita (story teller)…… ”
Itulah, awal dari adanya Al-berjanji, Simtuddor, dan lain sebagainya, yang merupakan cerita sejarah perjalanan Nabi yang dikemas dalam sajak-sajak, syair-syair. Dengan memperingati hari kelahiran Nabi, maka diharapkan akan terjadi transformasi nilai-nilai yang dibawa oleh Nabi, sehingga bisa dijadikan sebagai pegangan untuk menjalani kehidupan.
Jadi, yang terpenting dari maulid sesungguhnya adalah bagaimana agar maulid mampu melahirkan spirit baru untuk menghadirkan budi pekerti mulia dari Nabi di masa kini. Yaa, paling tidak dengan membaca dan merasakan perjuangan beliau hati kita akan menjadi tergerak. Karena Muhammad adalah utusan Allah, sepatutnya kita mengagungkan dan mencintai beliau.
Wallahualam bi al-showab.
























Komentar Terakhir