Bumi Kartini, 12/09/10
Si Boi, Sahabat setiaku,.
Ternyata aku baru menyadari kalau ternyata aku masih punya sahabat sejati, sahabat yang setia, setia selalu dimana pun aku berada. Sahabat yang tidak pernah memarahiku, kecuali jika aku berpaling dariNYA. Sahabat yang selalu mendukung setiap langkahku, bahkan ketika langkah itu terasa membelok dan terjal dia yang mengingatkanku dan meluruskan serta melereskan (membenarkan) langkah itu kembali pada jalanNYA dengan caranya. Sahabat yang tidak melibatkan emosi dan egoisnya dalam bertutur dan berbisik padaku. Dia selalu ada disaatku terpenjara dalam kepurukan.
Boi, begitu antara aku dan dia saling menyapa. Entah, antara ada dan tiada, namun saat ini aku sedang merasakan dia sedang berada disekitarku. Rasa sadarku ini, ada ketika aku sedang melakukan perjalanan dalam perantauan sejenak ke kota seberang, mencoba mencari peruntungan lain, beberapa minggu silam. Rasa sadarku ini, terbangun setelah aku terlarut dari mimpi (buruk) panjang yang tak berkesudahan dan semakin memanjang kali melebar menjadi masalah yang besar. Boi, mungkin malaikat penolongku, yang berada dipundak samping kananku, aku jua tak tahu. Tapi yang jelas, Boi, sahabat khayalku, datang dengan segala bisikannya setelah teman-teman yang (mungkin) menjadi sahabat-sahabatku satu per satu mulai menemukan dunia barunya. Dan yang jelas, Boi hadir dihadapanku untuk menemaniku tuk menjadikan aku sebenar-benarnya aku, bukan aku dalam kacamata mu, kacamata nya, dan kacamata mereka. Boi tahu bahwa aku telah banyak melakukan kesalahan besar di sepanjang tahun ini. Boi tahu bahwa aku sedang terombang ambing diatas ombak kehidupan seakan tidak punya pendirian, yang tergiur dan (mungkin) terhipnotis oleh segala cerita tentang pengalaman dan rayuan serta manisnya mulut berbisa yang terus menggoyangkan kata-kata. Boi datang, Boi akan menang, bukti bahwa Boi peduli dan tenang menghadapi segala cobaan. Bukan begitu Boi. Mari lanjutkan kehidupan Boi, karena hidup kan terus berputar. Mungkin saat ini kita sedang berada ditepi roda yang paling bawah, tapi yakinlah akan kuasa Tuhan bahwa kita akan menang, suatu saat nanti, ya nanti. Masih dengan kata-katanya, “Tenang saja Boi, kan ada Allah”. Kalimat itu, walau singkat namun cukup bermakna dan benar (sedikit) tenang. Suatu saat nanti akan aku perkenalkan engkau dengan si Boi, melalui pergulatanku dalam dunia maya bersama dengannya, si Boi.
“Hoi, Boi, pantesan lidahku ko kecokot cokot, ada yang lagi ngomongin hamba rupanya. Tiba-tiba Boi menyapaku.
“Lah ga pa2 lah Boi, ini demi kebaikan ku juga kan. Biar aku bisa lebih terbuka, walau hanya sebatas kata di dunia maya ini.”aku pun menjawab.
“Wokeylah, tapi jangan melebih-lebihkan seperti itulah, nanti seperti yang sudah-sudah loh, kecewa diakhir jadinya. Biasa saja tah, toh aku juga masih makhlukNya Boi, masih ada salahnya jua Boi”. Timpal si Boi.
“Baiklah Boi, tapi emang seperti itu keadaannya Boi, dan kayaknya aku ga mengada-ada Boi.”jawabku, lagi.
“ Hmm, begitu. Yasudahlah, tapi yang pasti Boi, kamu jangan terlalu banyak berharap pada bantuan dan pertolongan orang lain, menggantungkan harapan pada makhlukNya, ujung-ujungnya pasti banyak kecewanya Boi. Berharap dan mintalah pertolongan serta bantuan hanya padaNYA, Allah Boi. Dia yang sebenarnya ada disekitar kita.” Si Boi berkata.
Dan perbincangan kami tutup sampai disini. Suatu saat nanti aku hendak bincang-bincang lagi dengannya si Boi, dan denganNYA pula, insyaallah.
MINAL AIDIN WAL FAIZIN BOI. MAAF ATAS SEGALA KHILAF. HAPUS SEMUA SALAH, HAPUS SEMUA KECEWA. KITA KEMBALI BAGAI KERTAS PUTIH YANG KITA SENDIRI NANTINYA YANG AKAN MENULISKAN SESUATU DENGAN TINTA TERTENTU. BAIK BURUK HASIL TULISAN, TERGANTUNG KITA, BAIK BURUK CARA (TINTA) YANG DIGUNAKAN TERGANTUNG KITA SANG EKSEKUTOR KEHIDUPAN.
MARI KEMBALI FITRI BOI.





