2010, DAKU (HARUS) TETAP BERSYUKUR PADAMU

Bumi Kartini, 23 Desember 2010

 

Dalam kesunyian kamis pagi di Pantai Kartini, hembusan angin pantai dan gulungan ombak datang dan pergi silih berganti. Sembari menunggu Noval, sang keponakan, yang sedang mandi, aku duduk diatas batu besar di tepi pantai itu. Dengan tatapan kosong ke hamparan luas lautan pesisir paling utara pantai utara (tepatnya memandangi pulau panjang nan kecil), lalu, tiba-tiba, si Boi datang,

 

“Boi, tak terasa waktu tampak berjalan begitu cepat hingga kita sudah menapaki minggu terakhir dibulan terakhir tahun ini, tahun 2010. Mungkin bijaknya, aku hanya bisa bilang seperti judul dalam curahanku padamu kali ini.”

“Oh, tampak kurang ikhlas Gun, kamu bersyukurnya. Ada unsur keterpaksaan kalau dilihat-lihat.”

“Emang kelihatankah Boi? Memang tak berbakat untuk berbohong Boi. Ikhlas ga ikhlas aku tetap harus mengikhlaskan Boi. Toh semua sudah terjadi. Ini adalah proses Boi, sabar dan ikhlas itu sangatlah berat memang. Dan aku harus menjalani setiap ketentuanNya kan Boi.”

“Bettul, tumben kamu bisa bijak juga Gun. Kalo memang harus diikhlaskan, apa sih yang jadi penyebabnya, kok tampak berat begitu bagimu Gun?”

“Begini Boi, bagiku 2010 inilah tahun yang begituu lengkap kurasa. Susah-senang, duka-suka, semua bercampur-aduk sepanjang tahun dalam untaian pengalaman yang luar biasa, tak seperti tahun-tahun sebelumnya yang berjalan lempeng-lempeng wae dengan segala aktivitasnya. Serasa tahun ini Sang Pemilik Diri ini sedang memberikan porsi lebih untuk menggembleng daku. Serasa pula Sang pemilik hati ini terus mengombang-ambingkan hatiku sepanjang tahun.”

“Baiklah, jadi sekarang kamu tahu Gun, kalau Allah sangat dekat denganmu. Lalu, ada kisah apa sebenarnya sepanjang tahun, sehingga kamu merasa luar biasa, lalu apa rencanamu terkait masalah kehidupan, karir, jodoh, pendidikan, dan thethek mbengeknya sehingga masalah-masalah lau tidak terjadi lagi dan dapat dihindarkan?”

“Iya Boi, Allah sedang menunjukkan kasihNya padaku. Begitu rumit Boi, terlalu kompleks, hingga ku harus mengurai satu per satu suatu saat nanti jikalau engkau benar ingin mengetahui tapak tilas perjalanan itu. Dan pada akhirnya masalah masa lalu semoga bisa aku ambil hikmahnya atas ijinNya dan sebagai bekal tuk menjalani kehidupan yang akan datang. Sampai saat ini aku masih menunggu dan terus berusaha tuk meraih keajaiban dalam meraih ridlo-Nya, sebagai bentuk titik balik dari masa silam nan kelam. Semoga dapat ku raih secepatnya Boi. Bebanku tampak semakin berat kurasa.”

“Aku turut mendoakan dan mengamini apa yang menjadi harapan dan cita-citamu Gun. Kamu hanya kurang yakin saja atas kuasa-Nya. Tambah ikatan keyakinan itu dan segera buang jauh segala sesuatu yang dapat mengancam luncurnya keridlo-an dariNya.”

Begitulah percakapan singkat namun (semoga) bermakna antara Gun&Boi.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.