Peringatan Maulid Nabi 1432 H Ala si Boi

sebenernya, peringatan Maulid nabi ini telah terjadi sekitar satu bulan yang lalu, lalu saya menuliskan pengalaman ini (juga) sekitar satu bulan yang lalu. Namun, baru saya posting saat ini. Walau terlambat semoga manfaat dan tidak menimbulkan kontroversi diantara kita sobat.

jadi, begini ceritanya :

Maulid, atau yang biasa kita menyebut dengan milad adalah peringatan hari lahir. Maulid Nabi adalah peringatan untuk kelahiran nabi kita Muhammad SAW, dimana beliau dilahiran pada hari Senin, 12 Robiul awal tahun gajah.

Biasanya, jika di daerah dimana saya tinggal, kota Jepara, peringatan Maulid Nabi dengan membaca surat Al-Berzanji selama 12 hari, atau sekarang yang lebih populer adalah banyak yang membaca Simtuddor yang diusung oleh Habib Syech Assegaf. Al-berzanji merupakan kumpulan pujian-pujian dan sejarah perjalanan dan perjuangan Nabi sepanjang hayatnya.

Sungguh indah dan ngangeni yen mengingat dan bisa mengikuti kekhusyukan bersholawat, larut dalam lantunan pujian atas Nabi. Apalagi dengan adanya jadah (jajanan-jajanan) yang disediakan, semakin meramaikan suasana kala itu.

Semenjak adanya sholawat ala Bib Syech dengan Simtuddor-nya beberapa waktu terakhir ini, gairah sholawat di kota saya kembali bergelora. Paling tidak, masjid-masjid bahkan musholla sekarang banyak yang sudah mempunyai alat musik terbang (rebana) untuk mengiringi pujian-pujian yang dilantunkan.

 

Jogjakarta

Kali ini, saya merasakan suasana yang lain ketika turut memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Kebetulan malam itu, 14 Februari 2011, saya sedang singgah di kota Jogja (memang) istimewa. Dan, bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi 1432 H kali ini, saya berkesempatan untuk mengikuti perayaannya. Adalah Masjid Al-Ikhlas, masjid kecil berwarna hijau yang berlokasi di dusun Sono, Jakal (jalan kaliurang) KM.6,7 gang Timor Timur, Sleman, Yogyakarta, tempat yang saya singgahi.

Peringatan Maulid Nabi disini, berbeda dengan peringatan yang pernah saya ikuti sebelumnya dikota saya. Peringatannya cukup sederhana. semua warga sekitar masjid dikumpulkan. Kakek-kakek, nenek-nenek, bapak-bapak, ibu-ibu, remaja, bahkan anak-anak pun berkumpul menjadi satu di teras masjid itu. Dengan bertemakan NADA dan DAKWAH, acara ini diisi dengan nada-nada sholawat bergantian dengan dakwah dari ustadz (maaf, tidak tahu namanya). Dimulai dengan iringan musik (terbang, drum, bas, dan keyboard) dari remaja masjid serta lantunan sholawat dari ibu-ibu nasyidariyah. Sholawat dan pujiannya pun ala Sleman dengan kolaborasi bahasa Arab dan tembang Jawa.

Dakwah-dakwah yang disampaikan oleh Ustadz diantaranya, mengenai asal usul adanya Maulid Nabi, tentang Nur Muhammad yang ada sebelum Nabi Adam diciptakan, tentang kelahiran kelahiran nabi Muhammad, sejarah perjuangan Nabi, serta akhlak-akhlak yang bisa kita contoh sebagai ummatnya. Di sela-sela dakwah, jajanan dan gorengan serta nasi dengan suwiran ayam dekem disuguhkan kepada para jamaah. Disertai pula dengan rintikan air hujan yang semakin menambah kekhusyukan kami dalam bersholawat. Hingga akhirnya pukul 11 malam, acara pun dipungkasi dengan berdoa bersama yang dipimpin oleh pak ustadz.

Masjid ini, membuatku kagum akan kekondusifan dalam beribadahnya. masjid yang kecil dan sederhana. Saat adzan berkumandang, masyarakat sekitar masjid mulai berbondong-bondong untuk datang masjid. Mulai dari keberisikan dan keramaian anak-anaknya, para muda-mudinya, hingga para orang tuanya. Khususnya ketika sholat magrib, isya, dan subuh. Paling tidak beberapa kali saya ikut dalam jamaah 3 sholat wajib tersebut dan jamaah tergolong lumayan banyak.  Jogja memang istimewa, istimewa negerinya, istimewa orangnya.

 

Maulid penuh sholawat

Pagi harinya, saya pulang ke desa dimana saya dilahirkan. Entah ada angin apa, tiba-tiba saya ingin pulang, selain karena kemarin habis ditelpon ibu dan menanyakan tentang kepulangan. Mungkin saya terlalu larut dalam ‘indah dan nyamannya’ jogja.

Benar saja, kepulanganku kali ini tampaknya tepat bagiku untuk bersholawat. Sampai dirumah, saya diberi tahu ibu saya, bahwa sore hari itu, kami ada acara rutin keluarga besar bani Muchtar. Biasanya, acara hanya diisi dengan membaca tahlilan untuk mendoakan orang tua dan mbah-mbah kami. Namun, bertepatan dengan peringatan maulid nabi acara kali ini dimulai dengan membaca al-berzanji. Setelah membaca al-berzanji, ada sedikit petuah dari Bpk Ali Irfan Mukhtar, selaku kakak tertua dari keluarga (bani) Muchtar. Beliau menjelaskan tentang Maulid Nabi serta awal munculnya al-berzanji.

Peringatan maulid nabi disini (Jepara) diperingati pada hari ini, Selasa. Karena, ada beberapa kalender yang menyebutkan bahwa tanggal 12 robiul awal hijriyah jatuh pada hari Rabu. Sepulang dari acara keluarga, ketika adzan maghrib berkumandang, saya pergi ke musholla dekat rumah saya, yang biasa saya berjamaah disana. Di musholla, sudah disiapkan sound system dan seperangkat rebana. Mari bersholawat kembali. Kami melantunkan beberapa syair-syair ala Bib Syech dengan alat seadanya. Ternyata ndak gampang mainin terbang. Saya jadi tertarik untuk mempelajarinya. Ini, sekaligus mengobati kerinduanku pada acara berjanjenan (istilah kami untuk membaca al-berjanji) bareng-bareng.

 

Maulid nabi dan bid’ah

Dari peringatan maulid nabi di beberapa tempat kali ini, ada hikmah (atau tepatnya cerita) yang saya dapatkan. Cerita yang disampaikan dari Pak ustadz dan sekaligus Pak Ali Irfan pada intinya adalah sama, yaitu mengenai peringatan maulid nabi. Peringatan maulid nabi, ada beberapa golongan yang tidak boleh untuk merayakannya. Memang, peringatan dan perayaan ini pada zaman rosulullah, Rosul tidak pernah merayakan hari lahir beliau. Peringatan ini, ada beberapa golongan yang menyebutnya dengan bid’ah. Bid’ah adalah segala sesuatu yang tidak pernah dilakukan dan dianjurkan oleh Rosulullah. Namun, penuturan Pak Ustadz, bahwa kita jangan sampai takut dengan istilah bid’ah. Bid’ah itu ada bid’ah dholalah dan bid’ah khasanah.

Bahkan pada hari itu juga, saya membaca koranpagi wawasan pada kolom opini & feature, diceritakan oleh Dr. Mohammad Nasih (Dosen Pascasarjana Ilmu Politik UI dan FISIP UMJ) tentang Memaknai ulang tahun Nabi. Berikut saya kutipkan cerita singkat beliau.

“……  Orang yang mengerti sejarah peradaban Islam akan menjawab bahwa Nabi tak pernah melakukannya, dan perayaan maulid Nabi baru terjadi jauh setelah Nabi meninggal dunia. Bahkan orientasi (tujuan) pelaksanaan maulid Nabi juga bermacam-macam sesuai dengan kebutuhan riil masyarakat islam.

Mengenai kapan tepatnya awal pelaksanaan maulid Nabi, terdapat beberapa versi pendapat. Rasyid Ridla mengatakan bahwa peringatan maulid pada mulanya dilakukan oleh Raja Syakas di Mesir. Versi lain menyebutkan bahwa peringatan maulid pertama kali dilakukan pada masa kekhalifahan Fathimiyah di Mesir. Saat itu, peringatan maulid bagi keluarga kerajaan mempunyai nilai politis sebagai upaya untuk menunjukkan kepada masyarakat bahwa Dinasti Fathimiyah adalah keturunan Nabi (Ahl al-bait). Bagi keluarga kerajaan, maulid menjadi momentum yang sangat strategis untuk melegitimasi kekuasaan politik yang sedang mereka pegang sebagai “warisan” dari Nabi Muhammad. Dengan demikian, tidak akan muncul gejolak dalam masyarakat yang mempersoalkan kepemimpinan mereka.

Tradisi perayaan maulid Nabi kemudian semakin meluas di berbagai wilayah yang berpenduduk Islam setelah dipopulerkan oleh Abu Sa’id al-kokburi, Gubernur wilayah Irbil dimasa pemerintahan Shalah Al-Din al-Ayyubi. Muncul semangat baru dalam pelaksanaan perayaan maulid dalam masa ini, yakni membangun persatuan dan kesatuan umat Islam yang saat itu sedang menghadapi tentara Kristen dalam Perang Salib. Acara maulid semakin meriah dan menarik para pengunjung dari luar wilayah ketika didalamnya kemudian dimasukkan berbagai macam hiburan dengan menampilkan para musikus, penyanyi, dan pembawa cerita (story teller)…… ”

Itulah, awal dari adanya Al-berjanji, Simtuddor, dan lain sebagainya, yang merupakan cerita sejarah perjalanan Nabi yang dikemas dalam sajak-sajak, syair-syair. Dengan memperingati hari kelahiran Nabi, maka diharapkan akan terjadi transformasi nilai-nilai yang dibawa oleh Nabi, sehingga bisa dijadikan sebagai pegangan untuk menjalani kehidupan.

Jadi, yang terpenting dari maulid sesungguhnya adalah bagaimana agar maulid mampu melahirkan spirit baru untuk menghadirkan budi pekerti mulia dari Nabi di masa kini. Yaa, paling tidak dengan membaca dan merasakan perjuangan beliau hati kita akan menjadi tergerak. Karena Muhammad adalah utusan Allah, sepatutnya kita mengagungkan dan mencintai beliau.

Wallahualam bi al-showab.

2010, DAKU (HARUS) TETAP BERSYUKUR PADAMU

Bumi Kartini, 23 Desember 2010

 

Dalam kesunyian kamis pagi di Pantai Kartini, hembusan angin pantai dan gulungan ombak datang dan pergi silih berganti. Sembari menunggu Noval, sang keponakan, yang sedang mandi, aku duduk diatas batu besar di tepi pantai itu. Dengan tatapan kosong ke hamparan luas lautan pesisir paling utara pantai utara (tepatnya memandangi pulau panjang nan kecil), lalu, tiba-tiba, si Boi datang,

 

“Boi, tak terasa waktu tampak berjalan begitu cepat hingga kita sudah menapaki minggu terakhir dibulan terakhir tahun ini, tahun 2010. Mungkin bijaknya, aku hanya bisa bilang seperti judul dalam curahanku padamu kali ini.”

“Oh, tampak kurang ikhlas Gun, kamu bersyukurnya. Ada unsur keterpaksaan kalau dilihat-lihat.”

“Emang kelihatankah Boi? Memang tak berbakat untuk berbohong Boi. Ikhlas ga ikhlas aku tetap harus mengikhlaskan Boi. Toh semua sudah terjadi. Ini adalah proses Boi, sabar dan ikhlas itu sangatlah berat memang. Dan aku harus menjalani setiap ketentuanNya kan Boi.”

“Bettul, tumben kamu bisa bijak juga Gun. Kalo memang harus diikhlaskan, apa sih yang jadi penyebabnya, kok tampak berat begitu bagimu Gun?”

“Begini Boi, bagiku 2010 inilah tahun yang begituu lengkap kurasa. Susah-senang, duka-suka, semua bercampur-aduk sepanjang tahun dalam untaian pengalaman yang luar biasa, tak seperti tahun-tahun sebelumnya yang berjalan lempeng-lempeng wae dengan segala aktivitasnya. Serasa tahun ini Sang Pemilik Diri ini sedang memberikan porsi lebih untuk menggembleng daku. Serasa pula Sang pemilik hati ini terus mengombang-ambingkan hatiku sepanjang tahun.”

“Baiklah, jadi sekarang kamu tahu Gun, kalau Allah sangat dekat denganmu. Lalu, ada kisah apa sebenarnya sepanjang tahun, sehingga kamu merasa luar biasa, lalu apa rencanamu terkait masalah kehidupan, karir, jodoh, pendidikan, dan thethek mbengeknya sehingga masalah-masalah lau tidak terjadi lagi dan dapat dihindarkan?”

“Iya Boi, Allah sedang menunjukkan kasihNya padaku. Begitu rumit Boi, terlalu kompleks, hingga ku harus mengurai satu per satu suatu saat nanti jikalau engkau benar ingin mengetahui tapak tilas perjalanan itu. Dan pada akhirnya masalah masa lalu semoga bisa aku ambil hikmahnya atas ijinNya dan sebagai bekal tuk menjalani kehidupan yang akan datang. Sampai saat ini aku masih menunggu dan terus berusaha tuk meraih keajaiban dalam meraih ridlo-Nya, sebagai bentuk titik balik dari masa silam nan kelam. Semoga dapat ku raih secepatnya Boi. Bebanku tampak semakin berat kurasa.”

“Aku turut mendoakan dan mengamini apa yang menjadi harapan dan cita-citamu Gun. Kamu hanya kurang yakin saja atas kuasa-Nya. Tambah ikatan keyakinan itu dan segera buang jauh segala sesuatu yang dapat mengancam luncurnya keridlo-an dariNya.”

Begitulah percakapan singkat namun (semoga) bermakna antara Gun&Boi.

Antara Aku dan Si Boi (sebuah catatan khayalan)

Bumi Kartini, 12/09/10

Si Boi, Sahabat setiaku,.

Ternyata aku baru menyadari kalau ternyata aku masih punya sahabat sejati, sahabat yang setia, setia selalu dimana pun aku berada. Sahabat yang tidak pernah memarahiku, kecuali jika aku berpaling dariNYA. Sahabat yang selalu mendukung setiap langkahku, bahkan ketika langkah itu terasa membelok dan terjal dia yang mengingatkanku dan meluruskan serta melereskan (membenarkan) langkah itu kembali pada jalanNYA dengan caranya. Sahabat yang tidak melibatkan emosi dan egoisnya dalam bertutur dan berbisik padaku. Dia selalu ada disaatku terpenjara dalam kepurukan.

Boi, begitu antara aku dan dia saling menyapa. Entah, antara ada dan tiada, namun saat ini aku sedang merasakan dia sedang berada disekitarku. Rasa sadarku ini, ada ketika aku sedang melakukan perjalanan dalam perantauan sejenak ke kota seberang, mencoba mencari peruntungan lain, beberapa minggu silam. Rasa sadarku ini, terbangun setelah aku terlarut dari mimpi (buruk) panjang yang tak berkesudahan dan semakin memanjang kali melebar menjadi masalah yang besar. Boi, mungkin malaikat penolongku, yang berada dipundak samping kananku, aku jua tak tahu. Tapi yang jelas, Boi, sahabat khayalku, datang dengan segala bisikannya setelah teman-teman yang (mungkin) menjadi sahabat-sahabatku satu per satu mulai menemukan dunia barunya. Dan yang jelas, Boi hadir dihadapanku untuk menemaniku tuk menjadikan aku sebenar-benarnya aku, bukan aku dalam kacamata mu, kacamata nya, dan kacamata mereka. Boi tahu bahwa aku telah banyak melakukan kesalahan besar di sepanjang tahun ini. Boi tahu bahwa aku sedang terombang ambing diatas ombak kehidupan seakan tidak punya pendirian, yang tergiur dan (mungkin) terhipnotis oleh segala cerita tentang pengalaman dan rayuan serta manisnya mulut berbisa yang terus menggoyangkan kata-kata. Boi datang, Boi akan menang, bukti bahwa Boi peduli dan tenang menghadapi segala cobaan. Bukan begitu Boi. Mari lanjutkan kehidupan Boi, karena hidup kan terus berputar. Mungkin saat ini kita sedang berada ditepi roda yang paling bawah, tapi yakinlah akan kuasa Tuhan bahwa kita akan menang, suatu saat nanti, ya nanti. Masih dengan kata-katanya, “Tenang saja Boi, kan ada Allah”. Kalimat itu, walau singkat namun cukup bermakna dan benar (sedikit) tenang. Suatu saat nanti akan aku perkenalkan engkau dengan si Boi, melalui pergulatanku dalam dunia maya bersama dengannya, si Boi.

“Hoi, Boi, pantesan lidahku ko kecokot cokot, ada yang lagi ngomongin hamba rupanya. Tiba-tiba Boi menyapaku.

“Lah ga pa2 lah Boi, ini demi kebaikan ku juga kan. Biar aku  bisa lebih terbuka, walau hanya sebatas kata di dunia maya ini.”aku pun menjawab.

“Wokeylah, tapi jangan melebih-lebihkan seperti itulah, nanti seperti yang sudah-sudah loh, kecewa diakhir jadinya. Biasa saja tah, toh aku juga masih makhlukNya Boi, masih ada salahnya jua Boi”. Timpal si Boi.

“Baiklah Boi, tapi emang seperti itu keadaannya Boi, dan kayaknya aku ga mengada-ada Boi.”jawabku, lagi.

“ Hmm, begitu. Yasudahlah, tapi yang pasti Boi, kamu jangan terlalu banyak berharap pada bantuan dan pertolongan orang lain, menggantungkan harapan pada makhlukNya, ujung-ujungnya pasti banyak kecewanya Boi. Berharap dan mintalah pertolongan serta bantuan hanya padaNYA, Allah Boi. Dia yang sebenarnya ada disekitar kita.” Si Boi berkata.

Dan perbincangan kami tutup sampai disini. Suatu saat nanti aku hendak bincang-bincang lagi dengannya si Boi, dan denganNYA pula, insyaallah.

MINAL AIDIN WAL FAIZIN BOI. MAAF ATAS SEGALA KHILAF. HAPUS SEMUA SALAH, HAPUS SEMUA KECEWA. KITA KEMBALI BAGAI KERTAS PUTIH YANG KITA SENDIRI NANTINYA YANG AKAN MENULISKAN SESUATU DENGAN TINTA TERTENTU. BAIK BURUK HASIL TULISAN, TERGANTUNG KITA, BAIK BURUK CARA (TINTA) YANG DIGUNAKAN TERGANTUNG KITA SANG EKSEKUTOR KEHIDUPAN.

MARI KEMBALI FITRI BOI.

SULE – SUSIS (Suami Sieun Istri) – Download

Bagi para penggemar OVJ (Opera Pan Japa) pastinya tidak asing tho dengan lagu yang satu ini. Sule memang tiada matinya membuat inovasi-inovasi lawakan yang selalu bikin penggemar dia maupun OVJ sendiri tak mau berpaling dari menonton PVJ. kalau ada yang penasaran dengan lagu lengkapnya, iki ki lagu seng lengkape, lirike ugi ono. cekidot bang.

Lirik Lagu Sule – SUSIS (Suami Sieun Istri) :

What am I going to do?
But I can’t do anything

Tak punya taring, tak punya cakar loh ko takut?
Cantik dan anggun, lemah gemulai loh ko takut?
Kalo nyerocos, kalo ngedumel aku takut
Kalo cemberut, diam membisu juga takut

Susis wo wo wo susis, (wouwouwo)
Suami sieun istri (wouwouwo)
Susis wo wo wo susis, (wouwouwo)
Suami takut istri

What am I going to do?
But I can’t do anything
What am I going to do?
But I can’t I can’t do anything

Pilih mengalah, takut kena salah
Apalagi salah, jadi salah tingkah
Picingkan mata, cari aman saja
Kalo membangkang, urusan bakal panjang
Uyeee uyeee prikitiewww

Tak punya taring, tak punya cakar loh ko takut?
Cantik dan anggun, lemah gemulai loh ko takut?
Kalo nyerocos, kalo ngedumel aku takut
Kalo cemberut, diam membisu juga takut

Susis wo wo wo susis, (wouwouwo)
Suami sieun istri (wouwouwo)
Susis wo wo wo susis, (wouwouwo)
Suami takut istri

What am I going to do?
But I can’t do anything
What am I going to do?
But I can’t I can’t do anything

Pilih mengalah, takut kena salah
Apalagi salah, jadi salah tingkah
Picingkan mata, cari aman saja
Kalo membangkang, urusan bakal panjang

What am I going to do?
But I can’t do anything
What am I going to do?
But I can’t I can’t do anything

Pilih mengalah, jadi serba salah
Apalagi salah, jadi salah tingkah

What am I going to do?
But I can’t do anything
What am I going to do?
But I can’t do anything
But I can’t do anything

donlote neng kene yoh.

Paku…

Suatu ketika ada seorang anak laki-laki yang bersifat pemarah. Untuk mengurangi kebiasaan marah sang anak, ayahnya memberikan sekantong paku dan mengatakan pada anak itu untuk memakukan sebuah paku di pagar belakang setiap kali dia marah.

Hari itu anak itu telah memakukan 48 paku ke pagar setiap kali dia marah. Lalu secara bertahap jumlah itu berkurang. Dia mendapati bahwa ternyata lebih mudah menahan amarahnya daripada memakukan paku ke pagar.

Akhirnya tibalah hari dimana anak tersebut merasa sama sekali bisa mengendalikan amarahnya dan tidak cepat kehilangan kesabarannya. Dia memberitahukan hal ini kepada ayahnya, yang kemudian mengusulkan agar dia mencabut satu paku untuk setiap dimana dia tidak marah.

Hari-hari berlalu dan anak laki-laki itu akhirnya memberitahu ayahnya bahwa semua paku telah tercabut olehnya. Lalu sang ayah menuntun anaknya ke pagar. “Hmm, kamu telah berhasil baik anakku, tapi, lihatlah lubang-lubang dipagar ini. Pagar ini tidak akan pernah bisa sama seperti sebelumnya. Ketika kamu mengatakan sesuatu dalam kemarahan, kata-katamu meninggalkan bekas seperti lubang ini, di hati orang lain. Kamu dapat menusukkan pisau pada seseorang, lalu mencabut pisau itu, tetapi tidak peduli beberapa kali kamu meminta maaf, luka itu akan tetap ada. Dan luka karena kata-kata adalah sama buruknya dengan luka fisik.”

dikutip dari Buku_kumpulan_motivasi

Satu Bulan di Akhir Tahun dan Awal Tahun (part_3)

cerita sebelumnya

1 Januari 2010 – Tahun Baru Masehi

Badan masih terasa capek setelah perjalanan panjang nan menyenangkan, saya harus beraktiuvitas seperti biasanya. Awalnya tak ada agenda untuk mengisi waktu liburan di tahun baru 2010. Apalagi cuaca sedang asyik-asyiknya mengucurkan air di musim yang dingin ini. Tiba-tiba ada SMS datang dari si Retty. Retty adalah teman dari IMT / STMB yang saya kenal ketika kami Kerja Praktek bersama di RDC (Reseach and Development Center) Telkom. Dia ngajak untuk barbequan dirumah dia bersama dengan teman-teman yang lain. Saya pun mengiyakan ajakan dia, karena memang saya belum ada agenda apapun. Dan hari kemudian Agus Setiawan (wawan), teman di lab, dari lab. Gartek ngajak chat :

  • Wawan : Gun, besok malam tahun baru ikut yuk
  • Saya : neng ndi wan,
  • Wawan : yah, sekedar refreshing sejenak, makan2 wae.
  • Saya : wah, sebenere gelem sih wan, tapi wingi aku wis di ajak konco seko STMB ki, tapi yo durung pasti juga. Mengko lah tak kabari maneh. Wah, dalam rangka opo ki, sopo wae wan..heheh
  • Wawan : oke gun. Biasa lah kita2 aja, bareng Murdin juga. (Murdin adalah temen kosan saya dna temen lab juga, tapi dari lab. APK)
  • Saya : yo wis wan, mengko tak kabari maneh.

Akhirnya Kamis datang, saatnya untuk persiapan liburan selama setahun (dari tahun 2009 menuju tahun 2010). Namun, agenda saya masih belum ada penjelasan, lalu saya mulai mengkonfirmasi tentang kelanjutan acara di rumah Retty. Setelah cak cek cok, akhirnya saya mengetahui bahwa acara dibatalkan dikarenakan teman-teman yang lain tidak bisa, mungkin sudah punya agenda lain dengan pasangan masing-masing (nasib saya yang tidak punya pasangan ya seperti ini, hehe). Kemudian saya pun segera mengkonfirmasi kepada wawan untuk ikut dalam acara refreshing dan makan2 itu.

Walau hanya sekedar makan di SS (Special Sambel) di daerah Kiara Condong yang memang tidak jauh dari tempat kami tinggal. Karena memang kami sedang menghindari untuk ikut-ikutan kebanyakan orang-orang yang sedang memburu keramaian, justru kami malah mencari tempat makan yang sepi. Selidik punya selidik, makan-makan kali ini adalah dalam rangka syukuran setelah wawan dan denny mendapatkan proyek baru. Syukur Alhamdulillah.

Makan selesai, kami pun pulang. Dan selebihnya waktu saya habiskan untuk sekedar menonton televisi di kostan sendiri. Ada yang aneh pada malam itu (setidaknya itu yang saya rasakan). Sedang asyik-asyiknya nonton acara tahun baru di TV, saya tertidur di sekitar tabuh 11 malam dan terjaga kembali sekitar pukul 1 pagi. Terasa aneh memang, walau memang sebenarnya tidak aneh juga. Saya benar-benar tidak bisa melihat meriahnya tabuh pergantian tahun baik di kota kembang, di ibukota, maupun di kota-kota lain. Setelah itu berlalu, masih dengan lanjutan acara musik tahun baru dan masih dalam suasana duka karena salah satu guru besar dan salah satu mantan presiden Gus Dur meninggal dunia, tiba-tiba pukul 2 pagi saya mendengar takbir berkumandang. Allahu akbar, allahu akbar, allahu akbar. Allahu akbar walillahilham. Tanp saya sadari bibir ini pun ikut berkumandang tanpa pikir panjang lagi apa yang sebenarnya terjadi. Sungguh tentram sekali malam itu. Dan ternyata, baru pagi harinya saya mengetahui bahwa di malam itu sedang terjadi gerhana bulan. Subhanallah.

Malam berikutnya, saya bermalam di lab. Sispromasi, sudah lama tak tidur disana, kangen rasanya. Walau hanya beralaskan karpet seadanya (tetep dengan naungan AC donk) namun kebersamaan dengan kakak alumni, teman-teman, serta adik-adik kelas bercanda bersama bermain bersama itulah yang tidak bisa terlupakan. Sampai akhirnya malam itupun tercetus ide untuk rujakan bareng-bareng. Mulailah kami (adik-adik kelas maksudnya) berbelanja buah-buahan dan bumbu-bumbu yang dibutuhkan di pagi harinya. Tapi sayang, banyak dari temen-temen yang lain pada tidak bisa datang, karena memang selain rujakan ini dadakan, juga dikarenakan pada hari seninnya nanti adik-adik kelas akan menghadapi ujian akhir semester.

Sungguh liburan yang menyenangkan. Liburan tidak akan berarti apa-apa jika kita tidak mengisinya. Mengisi liburan tidak akan berarti apa-apa jika kita tidak bener-bener menikmatinya. Kenikmatan dalam kesederhanaan. Sungguh saya menikmati anugrah yang telah diberikan Yang Maha Memberi. Alhamdulillah.

~~~~~Selesai~~~~~

Satu Bulan di Akhir Tahun dan Awal Tahun (Part_2)

cerita sebelumnya

25 Desember 2009 – Liburan Natal

Berkaca dari kejadian sebelumnya yang menunggu teman saya yang tidak kunjung merencanakan sesuatu, saya pun mulai merencanakan untuk menikmati liburan kali ini. Acara utamanya adalah acara untuk memenuhi permintaan dari sahabat-sahabat saya yaitu makan-makan di rumah dalam rangka syukuran. Ntah syukuran kelulusan atau syukuran pekerjaan. Tapi yang pasti mungkin keduanya biar adil. Mulai saya untuk hubungi sana-hubungi sini, chat sana-chat sini. Dan membuat undangan (peuh, kayak mau nikah wae tho gun). Berikut kutipan undangan yang saya buat di note jejaring sosial :

“judul : AURA KASIH Konser di Jepara & Berkunjung ke Karimun Jawa

Dalam rangka merayakan tahun baru Islam 1 Muharram 1431 Hijriyah dan menyambut tahun baru Masehi 2010, mari kita berkumpul bersama, hanya sekedar tuk minum teh ga pake susu pada :

  • Hari : sabtu, tanggal ke 26 bulan Desember tahun 2009
  • Pukul : pukul-pukulan dari jam 19.30 WIBJ (Waktu Indonesia Bagian Jepara)
  • tempat : tanah kosong dari rumah Prof. Dr. Gunawan Mohammad, ST., MT. (ganti suasana yo put,he2)
  • acara : ngobrol-ngobrol aja sih, biar rame sambil membantai sang mangsa.

demikian undangan untuk sahabat-sahabat tercinta. 🙂

best regards,

the promotor AURA KASIH

*NB : Ikan sedang diusahakan pawangnya”

Undangan memang saya bikin se-nyleneh mungkin agar tidak terkesan resmi, tapi malah respon yang diberikan pada ketipu semua gara-gara melihat judul dan isi yang berbeda. Hehehe. Semua persiapan sudah beres, teman-teman telah confirm. Tiba-tiba ada chat masuk di YM saya dua hari sebelum liburan datang :

  • Mbak nana : “Gun, ni amel. Piye kabare”
  • Saya : “oii, mel, lagi di kost mbak nana ya. Alhamdulillah apik.”
  • Mbak nana : “Gun, bentar lagi long weekend nih, jalan-jalan yuks”
  • Saya : “waduh mel, ora ngomong wingi2, aku liburan sesok meh balik ki, meh mbakar-mbakar karo konco2. Maap”
  • Mbak nana : “yah, ga seru ah Gun, kan rame2 ma mbak nana. Yo wis lah, kl gitu besok pas tahun baru mo ke pantai. Kebetulan temene mbak nana yang dijakarta mo kesini”
  • Saya : “lha piye maneh mel, aku wis terlanjur janji karo konco2 neng omah. Awakmu sih ngajake ndadak. Okeyh deh, tahun baru insyaallah aku neng kene”

Paling tidak begitulah inti dari pembicaraan antara saya dengan Amel. Amel yang pernah menegur saya ketika itu. Dengan sedikit editan tentunya. Hehehe.

Rencana selanjutnya, adalah agenda perjalanan pulang. Kali ini saya tidak ingin langsung pulang ke rumah seperti biasanya. Seperti yang saya bilang sebelumnya, saya ingin benar-benar menikmati liburan di minggu ini. Lalu, saya mulai menghubungi sahabat saya yang akan ikut acara kumpul bareng yang sekarang kuliah di Jogja. Namanya Niam. Lengkapnya Maulin Niam. Biasanya saya memanggil dia Gus Nick, Gus artinya anak kyai dan Nick adalah nama keren dia. Dia sahabat saya di waktu SMA dulu. Mantan ketua OSIS yang cerdas, aktif dan kreatif yang selalu bersama-sama dalam melakukan suatu kegiatan (eh, ga semua sih..hehehe). Singkat cerita, saya bilang ke dia kalau saya ingin ke tempat dia lalu pulang bareng ke Jepara, tapi sebelum pulang Jepara kita mampir ke Solo. Dan dia pun menyetujuinya.

Saat itu juga, saya SMS teman kost yang (kebetulan) berasal dari Solo. Dia adalah wawan, Kurniawan. Saya lupa nama lengkapnya.

  • Saya, ”Aslmkm, wan insyaallah aku sido neng solo sesok jumat ato sabtu.”
  • Wawan, “Wslm, wah gun, sorry, tiba2 wae bapakku ngajak neng Surabaya ki. Piye,”
  • Saya, “Ow yow wis wan, suwun, tak hubungi mak eryth wae. Wah gagal kita makan gudeg ceker bareng,hehehe”

Ternyata ketika itu, mendadak Wawan pergi ke Surabaya bersama keluarganya. Lalu saya pun menghubungi mak Eryth. Erythrina Dwi A. Dia adalah salah satu teman di Lab. Sispromasi yang berasal dari Solo juga.

  • Saya, “Mak, posisi neng ndi. Insyaallah sesok Jumat ato Sabtu aku sido neng Solo. Piye, iso ngancani tho.”
  • Eryth, “Gunarso, aku lagi neng omah ki. Wah ga janji yo, yen Jumat kemungkinan aku ga iso, tapi yen Sabtu insyaallah iso. Soale kan keluargaku pancasila Gun. Meh neng nggone kuwi tho.”
  • Saya, “Iyo mak, hahahaha.. pancasila?. Okeyh deh, mengko tak hubungi maneh. Suwun mak.”

Kamis pun tiba, berangkatlah saya.

Jumat itu…..

Di pagi buta, saya sudah sampai di kota gudeg Jogjakarta. Langsung saja saya naik ojek menuju masjid kampus UGM dan memberi tahu Gus Nick kalau saya sudah di Maskam UGM.

Akhirnya tiba juga di tempat tinggal Gus Nick, mulailah kita menyusun agenda dan strategi untuk pulang. Saya hubungi mak Eryth untuk memberitahukan bahwa saya akan ke Solo hari ini, Jumat ini, dan seperti yang dia bilang sebelumnya, dia pun tidak bisa karena dirumahnya lagi banyak saudara yang sedang merayakan hari natal. Dia menyarankan saya untuk menghubungi Wildan. Wildan adalah teman di TI IT Telkom juga, teman dari lab sebelah (lab. Simbi). Kebetulan Wildan sedang di rumah dan tidak ada kegiatan apa-apa. Pagi hari saya sempatkan untuk tidur sejenak, sedangkan Niam asyik dengan chat-chat nya hingga akhirnya berhasil mengajak adik angkatannya di UGM tuk sekedar makan bareng. Dan pagi menjelang siang itu, kami (saya, Niam, Icha, dan duh lupa namanya) makan di warung padang. Ternyata di sela-sela makan itu ada sebuah obrolan diantara mereka yang membicarakan gejolak kawula muda. Niam sekarang sudah menjadi konsultan cinta, setidaknya itu julukan yang berikan ke dia, hahahaha.

13.00

Setelah sholat Jumat, kami keliling-keliling di sekitar kampus UGM dengan sepeda onthel kesayangan Niam.

Ketika itu pula kakak saya, mbak Mien bersama keluarga baru sampai di Jogja. Dia pergi ke Jogja dalam rangka acara reunian dengan teman-teman kuliahnya. Karena tidak akan ketemu lagi dirumah nanti, makanya saya sempat-sempatkan untuk bertemu keponakan-keponakan walau hanya sebentar. Langsung saja kami meluncur di tempat yang dimaksud.

14.00

Waktu sudah menunjukkan menjelang sore. Kami beranjak pulang untuk segera melanjutkan perjalanan ke Solo. Menuju ke halte bus ke arah Solo sebenarnya ada 2 pilihan : dengan bus atau dengan trans jogja. Kami memilih trans jogja, dengan berharap lebih cepat daripada menggunakan bus biasa. Berkelilinglah kami dengan trans jogja yang setiap berhenti di pemberhentian trans jogja kernetnya selalu memberikan informasi seperti sudah terekam dalam otaknya dan bibirnya bergerak sendiri. Beda dengan trans Jakarta yang sudah menggunakan suara digital, trans jogja masih menggunakan manual. Namun, perkiraan kami meleset, terlalu panjang jalur yang dilewati dan terlalu lama menunggu disetiap suttle trans jogja sehingga kami baru tiba di Solo pukul 17.15. padahal seharusnya menurut perkiraan perjalanan Jogja-Solo hanya 1 jam. Tidak apalah, itung-itung sekalian melihat-lihat kota Jogja.

Tiba di Solo

Setibanya di kota Solo, sambutan Wildan datang dengan mobil unik nan antik. Kami langsung menuju rumah Wildan untuk singgah sementara. Namun akhirnya kami malah diajak untuk menginap dirumah itu. Wildan adalah teman yang sangat asik. Dia bercerita panjang lebar kali tinggi tentang pekerjaannya, tentang kegiatannya. Pantesan saja, karena memang keluarga dia juga sangat welcome kepada setiap tamu dan teman-teman Wildan. Malam itu, pukul 7 malam, kami, saya-Niam-Wildan-dan adiknya Wildan beranjak pergi ke tujuan berikutnya. Kami berkunjung ke salah seorang teman SMA Wildan hingga malam menjelang. Sepulang dari sana, kami lalu keliling kota Solo dan berakhir dengan makan gudeg ceker. Dan hari itu, saya tutup hari saya dengan bermalam di rumah Wldan.

Sabtu Menjelang

Pagi menjemput, saya dan Niam langsung pamit kepada keluarga Wildan untuk pulang ke Jepara. Sampai di Jepara sekitar pukul 09.32 WIB. Istirahat sejenak, lalu segera melanjutkan agenda berikutnya. Mulai saya dengan menghubungi sang pawang ikan untuk persiapan acara makan-makan malam harinya. Namanya Maksum. Tapi sayang, ikan yang diharapkan sedang tidak tersedia, susah untuk dicari dan harganya pun mahal karena memang lagi musim hujan sehingga banyak para nelayan yang tidak pergi tuk miyang (istilah untuk melaut guna mencari ikan). Akhirnya, kami putuskan untuk mengganti ikan dengan ayam. Pukul 11.00 beraksi untuk ke pasar dalam rangka mencari ayam hidup. Dapat 2 ayam beserta bumbu-bumbu yang dibutuhkan. Langsung eksekusi pembunuhan ayam di rumah Maksum saat itu juga. Malam datang, dengan cuaca mendung saya menunggu teman-teman untuk segera mengeksekusi si ayam yang telah siap untuk di bakar. Amunisi sudah siap, kartu remi sudah ada, maen poker siap dijalankan. Dan pukul 20.33 kami sudah berkumpul di halaman rumah saya. Saatnya untuk mengeksekusi. Sungguh rame, seru, dan menyenangkan. Ada yang sibuk bakar-bakar, ada yang bermain poker, ada yang mengiris buah, ada yang ngobrol, ada yang tertawa ngakak. Sungguh senang sekali saya ketika itu. Karena itu adalah untuk pertama saya dan teman-teman saya berkumpul dirumah. Terima kasih untuk : Niam, Zaenur, Sitong (Faizal), Ali (bukan bapakku tapi Ali Mursidi ini), Maksum, Antok, Bowo, Black (Bramanta Fitri), Oka, Mely, Ayu, dan Mbo/munyuk (Fahmi). Seharusnya ada beberapa yang tak bisa datang : kethek (Darmawan) karena tiba-tiba sakit gatel-gatel, Cahyo seorang polisi yang tiba-tiba jaga, dan Kojek (Isnain) yang sedang sibuk-sibuknya mengerjakan skripsi. Hari Minggu, saya habiskan waktu untuk beristirahat dan berkumpul bersama keluarga. Dan sorenya saya harus kembali ke Bandung. Kembali merantau. Sungguh perjalanan liburan yang melelahkan namun menyenangkan. Menyenangkan namun melelahkan.

(to be continued)